Jumat, 18 Maret 2016

PENGARUH PENGGUNAAN BAHASA GAUL TERHADAP BAHASA INDONESIA

PENGARUH PENGGUNAAN BAHASA GAUL
TERHADAP BAHASA INDONESIA

Hasil Penelitian

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia Yang Diampuh Oleh Bapak Jafar Lantowa,S.Pd.,M.A.

Oleh

FEBRIANTO KARIM
NIM : 921414039

logo.jpg



UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI

2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan serta kemampuan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah ini yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia” dengan tepat waktu dan tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Jafar Lantowa,S.Pd.,M.A. selaku dosen pengampuh mata kuliah bahasa Indonesia. Dalam tugas karya ilmiah ini saya akan menjabarkan penjelasan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa gaul yang kini telah kita ketahui bahwa bahasa gaul telah berkembang dikalangan remaja dan sekitarnya serta perkembangan bahasa gaul yang menyebabkan bahasa Indonesia sekarang ini sering tidak digunakan secara baik dan benar.
Saya mohon maaf apabila dalam penulisan dan penyajian tugas karya ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan serta kesalahan-kesalahan, oleh karenanya saya mohon dari teman-teman agar dapat memberikan saran serta kritik yang dapat membangun agar dapat berguna dan bermanfaat bagi kita sekalian.







Gorontalo,   April 2015




 Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………..…………………           i
DAFTAR ISI……………………………………………………….……………... ii
BAB I  PENDAHULUAN…………………………………………………           ……....iii
1.1     Latar Belakang………………………………………………... ……....1
1.2     Rumusan Masalah…………………………………………….. ……....3
1.3     Tujuan Penelitian……………………………………………... ……....3

BAB II  LANDASAN TEORI…..………………………………………………...            iv
2.1  Sejarah Bahasa………………..……………………………….. ……....4
2.2  Pengertian Bahasa…………………..…………………………. ……....5
2.3  Fungsi Bahasa……………………………..…………………... ……....6
2.4  Pengertian Bahasa Baku………………………………………. ……....8
2.5  Pengertian Bahasa Gaul……………………………………….. ……....9
2.6  Ciri-Ciri Bahasa Gaul………………………………….………  ……....10
2.7  Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul……………………… ……....11
2.8  Contoh Bahasa Gaul….............................................................................13

BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………….            v
3.1  Metode Penelitian……………………………………………... ……....15
3.2  Sumber dan Data Penelitian……………………………            ……... ……....15
3.2.1  Populasi………………………………………….........................15
3.2.2  Sampel………………………………………………….. ……....15
3.3  Tehnik Pengumpulan Data…………………………………….  ……....16
3.4  Tehnik Analisis Data……………………………….………….  ………16




BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………..……......vi
4.1  Hasil Penelitian……………….................................................................17
4.2  Pembahasan………….............................................................................            .22
       4.2.1  Pengaruh Eksistensi Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia… 23

BAB V   PENUTUP……………………………………………………………….            vii
5.1  Kesimpulan…………………………………………………………….24
5.2  Saran…………………………………………………………………...25
           
DAFTAR PUSTAKA.……………………………………….…………………….           viii























BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Kita telah ketahui bersama bahwa bahasa adalah unsur yang sangat khas di dunia ini,karena setiap negara memiliki bahasa tersendiri hal ini juga yang dapat membedakan asal seseorang,dengan hanya berbicara orang lain akan langsung memberi tanggapan mengenai darimana asal orang tersebut, bahasa juga meruapakan simbol khas dari suatu negara ataupun suatu wilayah, karena bahasa merupakan unsur vital dalam berkomunikasi atau sebagai alat komunikasi paling utama. Dalam melakukan interaksi dalam hubungan sosial dengan sesama di masyarakat pasti setiap orang butuh bahasa. Negara Indonesia terdiri dari banyak pulau atau wilayah mempunyai berbagai macam bahasa yang berbeda tiap pulau dan daerahnya yang disebut bahasa daerah.
Bahasa indonesia adalah bahasa persatuan negara republik Indonesia, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berarti kita telah menjunjung tinggi bahasa persatuan kita yaitu,bahasa Indonesia. Dan juga bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terpenting di negara kesatuan republik Indonesia ini. Dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, berati kita sudah menjunjung tinggi bahasa persatuan sebagaimana tercantum dalam sumpah pemuda pada 28 oktober 1928. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia bukan berarti kita melupakan bahasa daerah masing-masing.
Di Indonesia sudah tercatat sebanyak kurang lebih 700 bahasa daerah yang digunakan dan berkembang pesat dengan berbagai dinamika kehidupan disetiap daerah di Indonesia dengan berbagai perpaduan bahasa di setiap daerahnya. Bahasa daerah ini dipakai dalam keadaan nonformal, dalam arti saat berinteraksi sesama warga satu daerah Sedangkan dalam acara formal menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penuturnya, karena bahasa Indonesialah yang diakui dan disepakati rakyat Indonesia dalam Sumpah Pemuda adalah bahasa Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, maka pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia entertainment mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan “Bahasa Gaul”. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan, istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Dalam konteks masa kini, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.
Pengguna bahasa gaul dalam masyarakat luas di indonesia tentunya berdampak negatif terhadap penggunaan bahasa indonesia secara baik dan benar pada saat ini dan masa yang akan datang. Saat ini masyarakat sudah banyak menggunakan bahasa gaul dan parahnya lagi generasi muda indonesia tidak lepas dari penggunaan bahasa gaul ini. Bahkan para generasi muda inilah yang paling banyak menggunakan bahasa gaul daripada bahasa indonesia di kehidupan sehari-hari.
Penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja dan anak muda sudah sangat luas dan sudah memprihatinkan, karena bahasa gaul yang mereka gunakan sudah aneh-aneh. Penggunaannya sudah tidak tahu tempat dan suasana dengan siapa mereka bicara. Dengan terjadinya hal ini, sudah merusak keahlian dan kebakuan bahasa Indonesia.
Kita lebih baik berbahasa daerah daripada berbahasa gaul dalam situasi yang tidak resmi. Mengapa demikian? Karena dengan kita menggunakan bahasa daerah kita sudah melestarikan bahasa daerah yang merupakan pemerkaya bahasa nasional yang sekaligus juga pemerkaya bahasa Indonesia.


1.2              Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah sebagai berikut:

1.        Apa pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia ?


1.3              Tujuan Penelitian
Adapun tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut:

1.            Mendeskripsikan pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.














 BAB II
LANDASAN TEORI

2.1   Sejarah Bahasa
Sekitar 5000 tahun lalu manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, sementara bahasa lisan pun terus berkembang. Transisi paling dini dilakukan bangsa Sumeria dan bagsa Mesir kuno, lalu juga bangsa Maya dan bangsa Cina yang mengembangkan sistem tulisan mereka secara independen. Tahun 2000 Sebelum Masehi, papirus digunakan secara luas di Mesir untuk menyampaikan pesan tertulis dan merekam informasi. Penyebaran sistem tulisan itu akhirnya sampai juga ke Yunani.Bangsa Yunanilah yang kemudian menyempurnakan dan menyederhanakan sistem tulisan ini. Menjelang kira-kira 500 Sebelum Masehi, mereka telah menggunakan alfabet ini secara luas. Akhirnya alfabet Yunani itu diteruskan ke Roma tempat sistem tulisan itu disempurnakan lagi.Sistem tulisan dan bahasa lisan itu terus berkembang hingga kini.Kita pun memasuki era pada abad ke 15, yang beberapa abad kemudian disusul oleh era radio, era televisi dan kini era komputer.Kesemuanya merekam hasil peradaban manusia untuk disempurnakan lagi oleh generasi-generasi mendatang lewat kemampuan mereka dalam berbahasa.
Hingga kini belum ada suatu teori pun yang diterima luas mengenai bagaimana bahasa itu muncul di permukaan bumi.Ada dugaan kuat bahasa nonverbal muncul sebelum bahasa verbal. Teoretikus kontemporer mengatakan bahwa bahasa adalah ekstensi perilaku sosial .Lebih dari itu, bahasa ucap bergantung pada perkembangan kemampuan untuk menempatkan lidah secara tepat di berbagi lokasi dalam sistem milik manusia yang memungkinkannya membuat berbagai suara kontras yang diperlukan untuk menghasilkan ucapan.Kemampuan ini mungkin berhubungan dengan kemampuan manusia lebih awal untuk mengartikulasikan isyarat-isyarat jari-jemari dan tangan yang memudahkan komunikasi nonverbal.


2.2   Pengertian Bahasa
Kamus besar bahasa Indonesia secara terminology mengartikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri. Bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia, bukan bunyi yang dihasilkan alat lain. Bahasa berasal dari udara yang keluar dari paru-paru menggetarkan pita suara di kerongkongan dan kemudian terujar lewat mulut.Abidin, dkk (2010 : 1 ).
Menurut Keraf (1991:1) bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi).  
Pengertian lain pengertian bahasa Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa, pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bahsa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang digunakan untuk berkomunikasi atau berinteraksi antara anggota masyarakat.
Menurut Chaer (2000:1), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengindentifikasi diri.
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati.Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna.
2.3   Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa menurut Abidin, dkk ( 2010 : 3 ), menjelaskan bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai media komunikasi, tetapi selain sebagai media komunikasi bahasa juga memiliki fungsi lain yaitu :
1.   Fungsi ekspresif,Bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan ide, gagasan, dan pengelaman. Contohnya dalam puisi. Pengarang mengeksperikan ide, gagasan dan pengalamanya dengan bahasa yang ditulis per bait yang disebut puisi.
2.   Fungsi estetis,Bahasa sebagai media yang indah untuk menyampaikan pesan. Fungsi estetis ini biasa diwujudkan dalam bentuk karya sastra.
3.   Fungsi informative, Artinya bahasa dapat digunakan untuk menginformasikan sesuatu kepada orang lain.
4.   Alat fungsional,Artinya bahasa dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu: untuk mengenal dunia kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Fungsi pertama bahasa ini jelas tidak terelakan. Melalui bahasa Anda mempelajari apa saja yang menarik minat Anda, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu yang tidak penah Anda temui, seperti bangsa Mesir kuno atau bangsa Yunani. Kita dapat berbagi pengalaman,  bukan hanya peristiwa masa lalu yang kita alami sendiri, tetapi juga pengetahuan tentang masa lalu yang kita peroleh melalui sumber kedua, seperti media cetak atau media elektronik. Kita juga menggunakan bahasa untuk memperoleh dukungan atau persetujuan dari orang lain atas pengalaman kita atau pendapat kita. Melalui bahasa pula Anda memperkirakan apa yang akan dikatakan atau dilakukan seorang kawan Anda, seperti dalam kalimat “ Kemarin kawan saya itu begitu marah kepada saya”. Meskipun gambaran kita mengenai masa depan tidak terlalu akurat, setidaknya bahasa memungkinkan kita memikirkan, membicarakan dan mengantisipasi masa depan, misalnya apa yang akan terjadi terhadap manusia dan alam semestaa berdasarkan dugaan yang dikemukakan oleh para ahli ilmu pengetahuan dan orang bijak lainnya, juga berdasarkan wahyu Tuhan atau sabda Nabi.
Fungsi kedua bahasa, yakni sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain, sebenarnya banyak berkaitan dengan fungsi sosial dan instrumental. Ringkasnya, bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita dan mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang sekitar kita.Seorang nyonya rumah dapat memerintahkan, “Tolong bawakan minuman buat saya” kepada pelayannya.Seorang kandidat dari sebuah partai politik dapat menyampaikan gagasannya, namun sekaligus juga membujuk rakyat untuk memilih partainya dan mempertimbangkan dirinya sebagai calon presiden yang potensial. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain bergantung tidak hanya pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sama yang kita berikan kepada kata-kita. Semakin jauh perbedaan antara bahasa yang kita gunakan dengan bahasa mitra komunikasi kita, semakin sulit bagi kita untuk mencapai saling pengertian. Meskipun orang Indonesia dan orang Malaysia berbicara bahasa Melayu, atau orang Amerika dan orang Inggris berbicara bahasa Inggris, mereka belum tentu mencapai kesepahaman, karena beberapa perbedaan yang ada dalam kedua bahsa tersebut.
Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur, saling memahami mengenai diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata-kata secara acak, melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah kita sepakati bersama.Akan tetapi, kita tidak sebenarnya tidak dapat selamanya dapat memenuhi ketiga fungsi bahasa tersebut, oleh karena itu, meskipunbahsa merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, saran ini secara inheren mengandung kendala, karean sifatnya yang cair dan keterbatasannya.Seperti dikatakan S.I Hayakawa, “Kata itu bukan objek.” Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul kesalahandphoneahaman di antara mereka.
Menurut Larry L.Barker, bahasa memiliki tiga fungsi: Penamaan (naming atau labelling), interaksi dan transmisi informasi.Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. Fungsi interaksi  menurut Barker, menekankan berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga Anda tidur kembali, dari orang lain, baik secara langsung atau tidak (melalui media massa misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi informasi yang lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita .Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita. Jadi fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek dan peristiwa yang terjadi.

2.4   Pengertian Bahasa Baku
Setiap negara mempunyai bahasa resmi masing-masing. Dalam Bahasa Indonesia bahasa resmi itu disebut bahasa baku. Bahasa baku terdiri dari kata-kata yang baku. Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman, dengan kata lain bahasa baku adalah bahasa yang menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari- hari pada bahasa percakapan maupun bahasa tulisan. Bahasa baku lazim digunakan dalam :
1.      Komunikasi resmi ( Tertulis ) Contoh : surat-menyurat resmi, pengumuman resmi, undang- undang dan lain-lain
2.      Wacana TeknisContohnya : laporan resmi, karangan ilmiah, buku pelajaran dan lain-lain
3.      Pembicaraan di depan umumContohnya : ceramah, kuliah, pidato dan lain-lain
4.      Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya (Formal) Contohnya : guru terhadap murid, saat sedang rapat di intansi tertentu, pembicaraan kenegaraan.
                                                                                                
2.5   Pengertian Bahasa Gaul
Bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas- komunitasIndonesia. Bahasa gaul dijadikan sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980- an. Pada saat itu ia dikenal sebagai ‘bahasanya para anak jalanan’ disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Namun seiring bertambahnya waktu bahasa prokem yang tadinya hanya dipakai para preman atau anak jalanan sebagai bahasa rahasia beralih fungsi menjadi bahasa gaul.
Menurut Wikipedia bebas-hasil dari penelusuran situs google mengatakan bahwa bahasa gaul atau bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia non standar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek khas suatu daerah  yang dipotong dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok- menjadi bokap.Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek suatu daerah.
Meskipun bahasa gaul sebenarnya merujuk kepada bahasa khas yang digunakan setiap komunitas atau subkultur apa saja, bahasa gaul lebih sering merujuk pada bahasa rahasia yang digunakan dalam kelompok yang menyimpang, seperti kelompok preman, kelompok penjual narkotika, kaum homoseksual/lesbian, pelacur, dan lain-lain.
Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkngan  social bahkan dalam media-media popular seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan sering pula digunakan dalam bentuk publikasi-publikasi yang ditunjukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja popular.
Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, Kota Gorontalo,di gorontalo banyak terdapat bahasa gaul yang sering digunakan oleh banyak kalangan orang terutama kalangan remaja.

2.6   Ciri-Ciri Bahasa Gaul
1.         Kosakata khas: ayah → papa, ibu → mama, cinta →suka, aku →kita, kamu →ngana, dan lain-lain.
2.         Penghilangan huruf (fonem) awal: sudah → udah, saja → aja, sama → ama, memang→emang, dan lain-lain.
3.         Penghilangan huruf “h”: habis → abis, hitung → itung, hujan → ujan, hilang → ilang, tahu → tau, lihat → liat, pahit → pait, tahun → taon, bohong → boong, dan lain-lain.
4.         Penggantian huruf "a" dengan "e": benar → bener, cepat → cepet, teman→ temen, cakap → cakep, sebal → sebel, senang → seneng, putar → puter, seram →serem.
5.         Penggantian diftong "au", "ai" dengan "o" dan "e": kalau → kalo, sampai → sampe, satai → sate, capai → cape, kerbau → kebo, pakai → pake, mau (bukan diftong) → mo, dan lain-lain.
6.         Pemendekan kata atau kontraksi dari kata/frasa yang panjang: terima kasih → makasi/trims, bagaimana → gimana, begini → gini, begitu → gitu, ini → nih, itu → tuh.

a.   Pengunaan Imbuhan
1)      Peluluhan sufiks me-, pe- seperti: membaca → baca, bermain → main, berbelanja → belanja, membeli → beli, membawa → bawa, pekerjaan → kerjaan, permainan → mainan, dan lain-lain.
2)      Penggunaan akhiran "-in" untuk menggantikan akhiran "-kan": bacakan → bacain, mainkan → mainin, belikan → beliin, bawakan → bawain, dan lain-lain.
3)      Nasalisasi kata kerja dengan kata dasar berawalan 'c': mencuci → nyuci, mencari → nyari, mencium → nyium, menceletuk → nyeletuk, mencolok → nyolok.
4)      Untuk membentuk kata kerja transitif, cenderung menggunakan proses nasalisasi awalan "me-", akhiran "-kan" dan "-i" yang cukup rumit dihindarkan.
5)      Proses nasalisasi kata kerja aktif+ in untuk membentuk kata kerja transitif aktif: memikirkan→ mikirin, menanyakan → nanyain, merepotkan → ngerepotin, mengambilkan → ngambilin.
6)      Bentuk pasif 1: di + kata dasar + in: diduakan → diduain, ditunggui → ditungguin, diajari → diajarin, ditinggalkan → ditinggalin.
7)      Bentuk pasif 2: ke + kata dasar yang merupakan padanan bentuk pasif "ter-" dalam bahasa Indonesia baku: tergaet → kegaet, tertimpa → ketimpa, terpeleset → kepeleset, tercantol → kecantol, tertipu → ketipu, tertabrak → ketabrak.
2.7   Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul
      Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahsa formalnya ( bahasa Indonesia ). Pada dasarnya ragam bahasa gaul remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah, dan kreatif. Dalam banyak kasus kosakata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Hal itu dapat dilihat dari:
a)      Penggunaan awalan (e)
Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disisipkan bunyi e. Disini jelas terlihat terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf depan (m). Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan merancu dari kata aslinya.
b)     Kombinasi (k, a, g)
Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a. Huruf konsonan kedua diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
c)      Sisipan (e)
Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a menjadi e. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
Dari bahasa gaul kemudian muncul istilah bahasa alay, tapi cenderung sama dengan bahasa gaul tapi bahasa alay ini lebih cenderung terlihat dari tulisan bukan lisan.Contoh yang merupakan jenis-jenis padanan kata seperti:
1)      Nama yang dibuat dengan bahasa alay dalam situs jejaring sosial.
Contoh : Ayhu ChUantiCk Changatt
2)      Tulisanya mengunakan huruf besa-kecil.
Contoh : “aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!” atau dengan angka “K4Ng3nZ dWEcChh” contoh penulisan lain dengan bahasa alay :
a.     Meminta orang lain untuk menambahkan jadi teman dalam
situs jejaring sosial : “j9n lupa ett ghw”.
b.     iya : ia.
c.      kamu: kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu, dan lain-lain.
d.     aku : akyu, aq, akko, akkoh, aquwh, dan lain-lain.
e.      maaf: mu’uph, muphs, maav, dan lain-lain.
f.       sorry: cowyie, cory, tory, dan lain-lain.
g.     add : ett,etths,aad,edd,  dan lain-lain.
h.     for : fur(zz),pols,  dan lain-lain.
i.       lagi : agi,agy.
j.       makan: mums,mu’umhs, dan lain-lain.
k.     lucu : lutchuw,uchul,luthu, dan lain-lain.
l.       siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,  dan lain-lain.
Semakin bertambahnya waktu semakin bertambah bahasa-bahasa gaul yang muncul sehingga kosa kata gaul pun semakin banyak.

2.8  Contoh Bahasa Gaul
Selain bahasa Indonesia yang baku banyak ragam bahasa yang sering digunakan oleh banyak kalangan dalam menyampaikan informasi kepada orang lain,seperti:
1.      Jo ( Saja )
Coba Jo Dulu (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) – Coba Saja Dulu.
2.      So (Sudah)
So pasti. – Sudah pasti / Tentu saja.
So Habis – Sudah Habis.
3.      Eh (Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua…)
Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa?
Eh, ke sini sebentar. - Cowok/Cewek, ke sini sebentar.
Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung.
4.      Kan (Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk meminta
pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan))
Bagus kan? - Bagus bukan?
Kan kamu yang bilang? -Bukankah kamu yang bilang demikian?
Dia kan sebenarnya baik. -Dia sebenarnya orang baik,bukan?

5.      Kiapa (Kata tanya pengganti 'Kenapa')
Kiapa kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat?
6.      Lho/Loh (Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi)
Loh, ada apa ini! – Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah)
7.      Nih (Kependekan dari 'ini')
Nih balon yang kamu minta. -Ini (sambil menyerahkan barang) Balon yang kamu minta.
saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan.
8.      Tuh/ tu (Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek…)
Lihat tuh hasil dari perbuatan kamu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatan kamu.
Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.
9.      Yah (Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri sendiri….)
Yah, Indonesia kalah lagi -Indonesia kalah lagi (dengan ekspresi kecewa).


                                                         










BAB III
METODE PENELITIAN

3.1   Metode Penelitian
Dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini pendekatan yang digunakan penulis  adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif, serta metode yang digunakan adalah metode deskriptif.  Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif.
3.2    Sumber dan Data Penelitian
         Data teoritis dalam penyusunan ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi lapangan dan berbagai sumber referensi dari berbagai situs internet , artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema makalah dan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti.
3.2.1    Populasi
           
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2006:89). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2014, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo.
3.2.2    Sampel
            Sampel merupakan bagian dari keseluruhan objek penelitian. Adapun jumlah sampel yang diambil adalah 23 orang, yaitu mahasiswa yang berada di kelas B Akuntansi angkatan 2014.


3.3    Teknik Pengumpulan Data
        
Dilakukan dengan mengamati secara langsung lokasi penelitian dengan tehnik pengambilan data studi observasi yang dilakukan sebagai langkah pertama untuk memperoleh gambaran awal terhadap perkembangan bahasa gaul khususnya dikalangan remaja yang dapat menggeser posisi bahasa Indonesia, disamping membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema yang diambil.
3.4    Teknik Analisis Data
         Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dengan tema penelitian.














BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1    Hasil Penelitian
         Berbicara tentang perkembangan bahasa gaul khususnya di kalangan remaja tentu pastinya memiliki dampak positif dan juga negatif bagi perkembangan bahasa Indonesia sekarang. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai faktor yang menyebabkan semakin dominannya penggunaan bahasa gaul di Indonesia. Dibawah ini akan dijelaskan secara berurut. Dan selanjutnya secara jelas dapat dilihat pada tabel berikut berdasarkan rumus yang digunakan untuk menganalisa data yaitu :
           
Keterangan :    P :  Proporsi  (Persentase)
                        F :  Jumlah jawaban dari setiap alternative pertanyaan  (Frekuensi)
                        N :  Jumlah Sampel
          Dibawah ini merupakan data dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan tehnik pengumpulan data studi observasi lapangan atau meneliti secara langsung terhadap objek yang diamati.
          Tehnik pengumpulan data studi observasi lapangan ini dilakukan dengan cara menggunakan alternatif pertanyaan yang terdiri atas 5 pertanyaan :
1.      Tanggapan responden tentang apa mereka mengenal bahasa gaul?


Jawaban
Frekuensi
Persentase
A
Ya
19
82.61%
B
Tidak
4
17.39%

Jumlah
23
100%

Berdasarkan jawaban dari responden diatas yang menunjukan bahwa mahasiswa kelas B akuntansi yang berjumlah 23 orang (100%) sebagian besar mengenal bahasa gaul. Yaitu, sebanyak 19 orang (82.61%) mengenal bahasa gaul dan sebanyak 4 orang (17.39%) tidak mengenal bahasa gaul. Hal ini membuktikan bahwa bahasa gaul sudah sangat dikenal dikalangan remaja.
Dapat dilihat pada tabel berikut kalimat bahasa gaul yang sering digunakan oleh banyak kalangan remaja ataupun mahasiswa :
Bahasa Indonesia
Bahasa Gaul
Maksud kamu/anda?
Maksud le hasan?
Semangat
Ba kuat
Serius?
Ciyus?
Ingin tahu
Kepo
Berlebihan
Lebay
Lambat
Lalod
Saya
Ana

2.      Tanggapan responden tentang semenjak kapan mereka mengenal bahasa gaul?

Jawaban
Frekuensi
Persentase
A
SD
1 orang
4.34 %
B
SMP
18 orang
78.27 %
C
SMA/SMK
3 orang
13.04 %
D
Perguruan Tinggi
 -
-
E
Mengenal jejaring social
1 orang
4.34 %

Jumlah
23 orang
100 %
Berdasarkan tabel jawaban responden diatas menunjukan bahwa sebagian dari mereka baru mengenal bahasa gaul sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Yaitu, sebanyak 1 orang (4.34%) sudah mengenal bahasa gaul sejak SD, sebanyak 18 orang (78.27%) sudah mengenal bahasa gaul sejak SMP, sebanyak 3 orang (13.04%) baru mengenal bahasa gaul sejak SMA, dan sebanyak 1 orang (4.34%) mengenal bahasa gaul sejak mengenal situs jejaring sosial.
3.      Tanggapan responden mengenai apakah lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia atau menggunakan bahasa gaul?

Jawaban
Frekuensi
Persentase
A
Bahasa Indonesia
11 orang
47.82 %
B
Bahasa Gaul
12 orang
52.18 %

Jumlah
23 orang
100%
            Berdasarkan data jawaban dari responden diatas menunjukan bahwa mereka  lebih dominan menggunakan bahasa gaul ketimbang bahasa Indonesia, yaitu sebanyak 11 orang (47.82 %) lebih menggunakan bahasa indonesia, dan sebanyak 12 orang (52.18%) mengatakan bahwa mereka lebih dominan menggunakan bahasa gaul. Dari tanggapan diatas dapat kita simpulkan bahwa bahasa gaul sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia.
4.      Tanggapan responden mengenai faktor-faktor yang menyebabkan bahasa gaul sering digunakan?

Jawaban
Frekuensi
Persentase
A
Karena Unik
10 orang
43.47 %
B
Karena Suka
9 orang
39.13 %
C
Takut Ketinggalan
4 orang
17.40 %

Jumlah
23 orang
100%
            Berdasarkan jawaban dari responden diatas menunjukan bahwa sebagian besar dari mereka sering  menggunakan bahasa gaul karena keunikan bahasa gaul tersebut. Dimana sebanyak 10 orang (43.47 %) menggunakan bahasa gaul karena keunikan bahasa gaul, dan sebanyak 9 orang (39.13 %) menggunakan bahasa gaul karena mereka menyukai bahasa gaul tersebut, serta sebanyak 4 orang (17.40%) menggunakan bahasa gaul Karena takut ketinggalan zaman.
5.      Tanggapan responden mengenai pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.
a)      Suci Masita  (Suci)
“Menurut saya, Munculnya bahasa gaul dikalangan para remaja menyebabkan pudarnya bahasa Indonesia yang seharusnya lebih penting untuk dilestarikan dikalangan para remaja”.
b)      Willyanto Malango (Wili)
“Menurut saya, bahwa bahasa gaul yang saya ketahui bahasa gaul itu adalah bahasa yang sangat populer pada anak-anak yang baru memasuki remaja, yang mempengaruhinya yaitu adanya pergaulan-pergaulan bebas dan internet yang semakin banyak”.
c)      Riyanti Hamid (Ririn)
“Menurut saya, Pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia yaitu dapat menenggelamkan bahasa Indonesia dikalangan para remaja”.
d)     Sri Indah Nadiah Hasan (Indah)
“Menurut saya, pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia yaitu bahasa indonesia akan jarang digunakan atau bahkan tidak akan digunakan lagi. Karena yang telah kita ketahui bersama, bahwa sekarang para remaja telah lebih banyak menggunakan bahasa gaul agar tidak ketinggalan zaman”.
e)      Nurain Hilumalo (Ain)
“Menurut saya, kebanyakan orang hanya menggunakan bahasa gaul dibandingkan dengan bahasa Indonesia , salah satu alasannya adalah mereka takut akan ketinggalan zaman”.



f)       Melisa Asmawati Olii  (Lisa)
“Manurut saya, bahasa gaul dapat mempengaruhi bahasa Indonesia, karena seiring kita menggunakan bahasa gaul kita dapat melupakan bahasa daerah sendiri khususnya bahasa Indonesia”.
g)      Moh. Gufron Stion (Gufron)
“Menurut saya, karena bahas gaul bersifat unik, pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia yaitu orang-orang akan sulit mengenali bahasa Indonesia yang baik dan benar”.




















4.2   PEMBAHASAN
4.2.1    Pengaruh Eksistensi Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi pemakaiannya serta tidak menyimpang dari kaidah bahasa baku. Bahasa Indonesia yang benar berarti bahasa yang memiliki ragam formal dan taat pada kaidah bahasa baku. Bahasa Indonesia yang baik berarti maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan siuasi saat bahasa itu digunakan
            Namun saat ini banyak remaja yang tidak memakai bahasa yang baik dan benar. Mereka lebih kepada memakai bahasa gaul yang sudah jelas dalam penulisan maupun pengucapannya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Munculnya bahasa gaul merupakan ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia. Bahasa gaul memberikan pengaruh bahwa kemampuan berbahasa remaja saat ini semakin buruk  dan jauh dari kata baik dan benar. Apabila kegemaran ini berlangsung lama dan makin dicintai, resmilah kita mengubur semangat sumpah pemuda berbahasa satu, bahasa Indonesia.

            Penggunaan bahasa gaul dalam komunikasi baik di dunia nyata maupun dunia maya menimbulkan beberapa masalah, antara lain:
A.     Bahasa gaul dapat mempersulit penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam acara formal. Misalnya ketika sedang presentasi di depan kelas.
B.     Bahasa gaul dapat menyulitkan orang lain yang mendengar kata-kata yang termaksud gaul untuk mengerti maksud yang dibicarakannya.
C.     Bahasa gaul dapat menyebabkan buruknya penggunaan bahasa Indonesia dikalangan remaja yang akan datang. Mereka tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Akan tetapi sebagian orang mengatakan bahwa bahasa gaul dapat membawa pengaruh positif bagi remaja :
A.     Dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreaif. Karena remaja dapat mengembangkan ide yang ada pada diri mereka dan mereka dapat menciptakan inovasi bahasa yang baru.

Hal ini membuktikan bahwa bahasa gaul telah menghambat perkembangan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Pengaruh bahasa gaul terhadap eksistensi bahasa Indonesia sangat besar. Bahasa Indonesia sekarang sudah jauh dari kata indah karena telah dicemari oleh penggunaan bahasa gaul yang semakin banyak.

Pengaruh tersebut antara lain:
a)      Remaja Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku.
b)      Remaja Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
c)      Remaja Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
d)      Dulu anak-anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa gaul. Misalnya dulu kita memanggil orang tua dengan sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak kecil memanggil ayah atau ibu dengan sebutan bokap atau nyokap.
e)      Penulisan bahasa indonesia menjadi tidak benar. Yang mana pada penulisan bahasa indonesia yang baik dan benar, hanya huruf awal saja yang diberi huruf kapital, dan tidak ada penggantian huruf menjadi angka dalam sebuah kata ataupun kalimat.

Bahasa gaul secara langsung maupun tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jika hal ini terus berlangsung, dikahawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan dikalangan anak-anak. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa remi negara kita dan juga sebagai identitas bangsa.
BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
Tata bahasa Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa gaul.
Bahasa gaul secara langsung maupun tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan ini merupakan pertanda kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang buruk. Memang dalam ilmu bahasa ada beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang formal. Tetapi bahasa gaul merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah. Keberadaan bahasa gaul memang sangat mengganggu eksistensi bahasa Indonesia. Banyak remaja yang sudah tidak mengindahkan bahasa Indonesia dan banyak dari mereka yang tidak lagi mengenal bahasa Indonesia yang baik dan benar.










5.2          Saran
Adapun saran yang dapat penulis cantumkan dalam karya tulis ini adalah akan lebih baik jika para remaja tidak berlebihan dalam menggunakan bahasa gaul karena dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Dan hendaknya melakukan pemahaman yang mendalam terhadap pengaruh bahasa gaul serta mulailah dari diri kita sendiri untuk membudidayakan bahasa Indonesia dan meningkatkan kembali eksistensinya di kalangan remaja khusunya.
Kita boleh saja menggunakan bahasa gaul, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia yang baik. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan serta lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36.












DAFTAR PUSTAKA
Meilana,Ayu. 2010. Bahasa gaul mengancam penggunaan bahasa Indonesia.(online)
              (http://ayumeilana.blogspot.com/bahasa gaul.html. diakses 16 april 2015)

Wulandari,Siti.2012.Trend Bahasa Alay Menyimpang.(online)
             (http://siti-wulandari.blogspot.com/bahasa-alay-menyimpang.html.
              diakses 16 april 2015)

Nurutami,AnnaRevi.2013.Pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa indonesia.(online)
              (http://AnnaReviNurutami.blogspot.com/pengaruh bahasa gauyl dalam
               perkembangan bahasa Indonesia.html, diakses 16 april 2015)
Anwarul,Andri.2012.Makalah Pengaruh Bahasa Gaul.(online)
              (http://Andri.Anwarul.blogspot.com/Makalah Pengaruh Bahasa Gaul 
               Terhadap Bahasa Indonesia.html, diakses 16 april 2015)
Gracella.2014.karya tulis pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.(online)
                (http://GracellaGrace.blogspot.com/karya tulis pengaruh bahasa gaul
                terhadap bahasa Indonesia.html, diakses 16 april 2015)
Sumarsin,Arif.2012.Pengaruh Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan
Bahasa Indonesia. (online)
 (http://Arif.Sumarsin.blogspot.com/pengaruh penggunaan bahasa gaul
 terhadap bahasa Indonesia.html, diakses  16 april 2015)

Pertiwi,Meilinda.2013.Pengaruh Bahasa Alay terhadap Eksistensi Bahasa   
                Indonesia.(online) (http://MelindaDwi Pertiwi.com/eksistensi bahasa
                Indonesia.html, diakses 16 april 2015)