PENGARUH
PENGGUNAAN BAHASA GAUL
TERHADAP
BAHASA INDONESIA
Hasil
Penelitian
Diajukan
untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Yang Diampuh Oleh Bapak Jafar Lantowa,S.Pd.,M.A.
Oleh
FEBRIANTO
KARIM
NIM
: 921414039

UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang
telah memberikan nikmat kesehatan serta kemampuan kepada saya sehingga dapat
menyelesaikan tugas karya ilmiah ini yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia” dengan
tepat waktu dan tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Jafar Lantowa,S.Pd.,M.A. selaku dosen
pengampuh mata kuliah bahasa Indonesia. Dalam tugas karya ilmiah ini saya akan
menjabarkan penjelasan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa gaul yang kini
telah kita ketahui bahwa bahasa gaul telah berkembang dikalangan remaja dan
sekitarnya serta perkembangan bahasa gaul yang menyebabkan bahasa Indonesia
sekarang ini sering tidak digunakan secara baik dan benar.
Saya mohon maaf apabila dalam penulisan dan
penyajian tugas karya ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan serta
kesalahan-kesalahan, oleh karenanya saya mohon dari teman-teman agar dapat
memberikan saran serta kritik yang dapat membangun agar dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita sekalian.
Gorontalo, April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………..………………… i
DAFTAR ISI……………………………………………………….……………... ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… ……....iii
1.1 Latar Belakang………………………………………………... ……....1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………….. ……....3
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………... ……....3
BAB II LANDASAN TEORI…..………………………………………………... iv
2.1 Sejarah Bahasa………………..……………………………….. ……....4
2.2 Pengertian Bahasa…………………..…………………………. ……....5
2.3 Fungsi Bahasa……………………………..…………………... ……....6
2.4 Pengertian Bahasa Baku………………………………………. ……....8
2.5 Pengertian Bahasa Gaul……………………………………….. ……....9
2.6 Ciri-Ciri Bahasa Gaul………………………………….……… ……....10
2.7 Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul……………………… ……....11
2.8 Contoh Bahasa Gaul….............................................................................13
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………. v
3.1 Metode Penelitian……………………………………………... ……....15
3.2 Sumber dan Data Penelitian…………………………… ……... ……....15
3.2.1 Populasi………………………………………….........................15
3.2.2 Sampel………………………………………………….. ……....15
3.3 Tehnik Pengumpulan Data……………………………………. ……....16
3.4 Tehnik Analisis Data……………………………….…………. ………16
BAB IV HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………..……......vi
4.1 Hasil
Penelitian……………….................................................................17
4.2
Pembahasan…………............................................................................. .22
4.2.1
Pengaruh Eksistensi Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia… 23
BAB V
PENUTUP………………………………………………………………. vii
5.1 Kesimpulan…………………………………………………………….24
5.2 Saran…………………………………………………………………...25
DAFTAR PUSTAKA.……………………………………….……………………. viii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kita
telah ketahui bersama bahwa bahasa adalah unsur yang sangat khas di dunia
ini,karena setiap negara memiliki bahasa tersendiri hal ini juga yang dapat
membedakan asal seseorang,dengan hanya berbicara orang lain akan langsung
memberi tanggapan mengenai darimana asal orang tersebut, bahasa juga meruapakan
simbol khas dari suatu negara ataupun suatu wilayah, karena bahasa merupakan
unsur vital dalam berkomunikasi atau sebagai alat komunikasi paling utama.
Dalam melakukan interaksi dalam hubungan sosial dengan sesama di masyarakat
pasti setiap orang butuh bahasa. Negara Indonesia terdiri dari banyak pulau
atau wilayah mempunyai berbagai macam bahasa yang berbeda tiap pulau dan
daerahnya yang disebut bahasa daerah.
Bahasa
indonesia adalah bahasa persatuan negara republik Indonesia, dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar berarti kita telah menjunjung tinggi
bahasa persatuan kita yaitu,bahasa Indonesia. Dan juga bahasa Indonesia merupakan bahasa
yang terpenting di negara kesatuan republik Indonesia ini. Dengan menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik dan benar, berati kita sudah menjunjung tinggi
bahasa persatuan sebagaimana tercantum dalam sumpah pemuda pada 28 oktober
1928. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia bukan berarti kita melupakan bahasa
daerah masing-masing.
Di
Indonesia sudah tercatat sebanyak kurang lebih 700 bahasa daerah yang digunakan
dan berkembang pesat dengan berbagai dinamika kehidupan disetiap daerah di
Indonesia dengan berbagai perpaduan bahasa di setiap daerahnya. Bahasa daerah
ini dipakai dalam keadaan nonformal, dalam arti saat berinteraksi sesama warga
satu daerah Sedangkan
dalam acara formal menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penuturnya,
karena bahasa Indonesialah yang diakui dan disepakati rakyat Indonesia dalam Sumpah
Pemuda adalah bahasa Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, maka
pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia
entertainment mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja
yang dikenal dengan “Bahasa Gaul”. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari
bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan, istilah ini mulai muncul pada
akhir tahun 1980. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul
yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari
semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan
bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Dalam konteks masa kini, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal
yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.
Pengguna bahasa gaul dalam
masyarakat luas di indonesia tentunya berdampak negatif terhadap penggunaan
bahasa indonesia secara baik dan benar pada saat ini dan masa yang akan datang.
Saat ini masyarakat sudah banyak menggunakan bahasa gaul dan parahnya lagi
generasi muda indonesia tidak lepas dari penggunaan bahasa gaul ini. Bahkan
para generasi muda inilah yang paling banyak menggunakan bahasa gaul daripada
bahasa indonesia di kehidupan sehari-hari.
Penggunaan
bahasa gaul dikalangan remaja dan anak muda sudah sangat luas dan sudah
memprihatinkan, karena bahasa gaul yang mereka gunakan sudah aneh-aneh.
Penggunaannya sudah tidak tahu tempat dan suasana dengan siapa mereka bicara.
Dengan terjadinya hal ini, sudah merusak keahlian dan kebakuan bahasa
Indonesia.
Kita
lebih baik berbahasa daerah daripada berbahasa gaul dalam situasi yang tidak
resmi. Mengapa demikian? Karena dengan kita menggunakan bahasa daerah kita
sudah melestarikan bahasa daerah yang merupakan pemerkaya bahasa nasional yang
sekaligus juga pemerkaya bahasa Indonesia.
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan
latar belakang masalah di atas adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengaruh
eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia ?
1.3
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah
sebagai berikut:
1.
Mendeskripsikan
pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1 Sejarah Bahasa
Sekitar 5000 tahun lalu manusia melakukan transisi
komunikasi dengan memasuki era tulisan, sementara bahasa lisan pun terus
berkembang. Transisi paling dini
dilakukan bangsa Sumeria dan bagsa Mesir kuno, lalu juga bangsa Maya dan bangsa
Cina yang mengembangkan sistem tulisan mereka secara independen. Tahun 2000
Sebelum Masehi, papirus digunakan secara luas di Mesir untuk menyampaikan pesan
tertulis dan merekam informasi. Penyebaran sistem tulisan itu akhirnya sampai
juga ke Yunani.Bangsa Yunanilah yang kemudian menyempurnakan dan
menyederhanakan sistem tulisan ini. Menjelang kira-kira 500 Sebelum Masehi,
mereka telah menggunakan alfabet ini secara luas. Akhirnya alfabet Yunani itu
diteruskan ke Roma tempat sistem tulisan itu disempurnakan lagi.Sistem tulisan
dan bahasa lisan itu terus berkembang hingga kini.Kita pun memasuki era pada
abad ke 15, yang beberapa abad kemudian disusul oleh era radio, era televisi
dan kini era komputer.Kesemuanya merekam hasil peradaban manusia untuk
disempurnakan lagi oleh generasi-generasi mendatang lewat kemampuan mereka
dalam berbahasa.
Hingga
kini belum ada suatu teori pun yang diterima luas mengenai bagaimana bahasa itu
muncul di permukaan bumi.Ada dugaan kuat bahasa nonverbal muncul sebelum bahasa
verbal. Teoretikus kontemporer mengatakan bahwa bahasa adalah ekstensi perilaku
sosial .Lebih dari itu, bahasa ucap bergantung pada perkembangan kemampuan
untuk menempatkan lidah secara tepat di berbagi lokasi dalam sistem milik
manusia yang memungkinkannya membuat berbagai suara kontras yang diperlukan
untuk menghasilkan ucapan.Kemampuan ini mungkin berhubungan dengan kemampuan
manusia lebih awal untuk mengartikulasikan isyarat-isyarat jari-jemari dan
tangan yang memudahkan komunikasi nonverbal.
2.2 Pengertian Bahasa
Kamus
besar bahasa Indonesia secara terminology mengartikan bahasa sebagai sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk
bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri. Bahasa adalah bunyi
yang dihasilkan alat ucap manusia, bukan bunyi yang dihasilkan alat lain.
Bahasa berasal dari udara yang keluar dari paru-paru menggetarkan pita suara di
kerongkongan dan kemudian terujar lewat mulut.Abidin, dkk (2010 : 1 ).
Menurut
Keraf (1991:1) bahasa mencakup dua
bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang
mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota
masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna
(isi).
Pengertian
lain pengertian bahasa Menurut Keraf
dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa, pengertian
pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa
adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran)
yang bersifat arbitrer. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
bahsa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang digunakan untuk
berkomunikasi atau berinteraksi antara anggota masyarakat.
Menurut
Chaer (2000:1), berpendapat bahwa
bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan
oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengindentifikasi diri.
Secara
sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati.Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk
beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan
pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.Dalam studi sosiolinguistik, bahasa
diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer,
produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. maka dapat disimpulkan bahwa setiap
suatu ujaran bahasa memiliki makna.
2.3 Fungsi Bahasa
Fungsi
bahasa menurut Abidin, dkk ( 2010 : 3
), menjelaskan bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai media komunikasi,
tetapi selain sebagai media komunikasi bahasa juga memiliki fungsi lain yaitu :
1.
Fungsi
ekspresif,
Bahasa
dapat digunakan untuk mengekspresikan ide, gagasan, dan pengelaman. Contohnya
dalam puisi. Pengarang mengeksperikan ide, gagasan dan pengalamanya dengan
bahasa yang ditulis per bait yang disebut puisi.
2.
Fungsi estetis,
Bahasa sebagai media yang indah untuk menyampaikan
pesan. Fungsi estetis ini biasa diwujudkan dalam bentuk karya sastra.
3.
Fungsi
informative, Artinya bahasa dapat digunakan untuk menginformasikan sesuatu
kepada orang lain.
4.
Alat fungsional,
Artinya bahasa dapat dijadikan sebagai alat untuk
mencapai tujuan tertentu.
Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication:
Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita
berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu: untuk mengenal
dunia kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi
dalam kehidupan kita. Fungsi pertama bahasa ini jelas tidak terelakan. Melalui
bahasa Anda mempelajari apa saja yang menarik minat Anda, mulai dari sejarah
suatu bangsa yang hidup pada masa lalu yang tidak penah Anda temui, seperti
bangsa Mesir kuno atau bangsa Yunani. Kita dapat berbagi pengalaman,
bukan hanya peristiwa masa lalu yang kita alami sendiri, tetapi juga
pengetahuan tentang masa lalu yang kita peroleh melalui sumber kedua, seperti
media cetak atau media elektronik. Kita juga menggunakan bahasa untuk
memperoleh dukungan atau persetujuan dari orang lain atas pengalaman kita atau
pendapat kita. Melalui bahasa pula Anda memperkirakan apa yang akan dikatakan
atau dilakukan seorang kawan Anda, seperti dalam kalimat “ Kemarin kawan saya
itu begitu marah kepada saya”. Meskipun gambaran kita mengenai masa depan tidak
terlalu akurat, setidaknya bahasa memungkinkan kita memikirkan, membicarakan
dan mengantisipasi masa depan, misalnya apa yang akan terjadi terhadap manusia
dan alam semestaa berdasarkan dugaan yang dikemukakan oleh para ahli ilmu
pengetahuan dan orang bijak lainnya, juga berdasarkan wahyu Tuhan atau sabda Nabi.
Fungsi kedua bahasa, yakni sebagai sarana untuk berhubungan dengan
orang lain, sebenarnya banyak berkaitan dengan fungsi sosial dan instrumental.
Ringkasnya, bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan
kita dan mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita
dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang sekitar kita.Seorang
nyonya rumah dapat memerintahkan, “Tolong bawakan minuman buat saya” kepada pelayannya.Seorang
kandidat dari sebuah partai politik dapat menyampaikan gagasannya, namun
sekaligus juga membujuk rakyat untuk memilih partainya dan mempertimbangkan
dirinya sebagai calon presiden yang potensial. Kemampuan berkomunikasi dengan
orang lain bergantung tidak hanya pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman
yang sama dan makna yang sama yang kita berikan kepada kata-kita. Semakin jauh
perbedaan antara bahasa yang kita gunakan dengan bahasa mitra komunikasi kita,
semakin sulit bagi kita untuk mencapai saling pengertian. Meskipun orang
Indonesia dan orang Malaysia berbicara bahasa Melayu, atau orang Amerika dan
orang Inggris berbicara bahasa Inggris, mereka belum tentu mencapai
kesepahaman, karena beberapa perbedaan yang ada dalam kedua bahsa tersebut.
Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih
teratur, saling memahami mengenai diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan
tujuan-tujuan kita.Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun
kata-kata secara acak, melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah
kita sepakati bersama.Akan tetapi, kita tidak sebenarnya tidak dapat selamanya
dapat memenuhi ketiga fungsi bahasa tersebut, oleh karena itu, meskipunbahsa
merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, saran ini secara inheren
mengandung kendala, karean sifatnya yang cair dan keterbatasannya.Seperti
dikatakan S.I Hayakawa, “Kata itu
bukan objek.” Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan
timbul kesalahandphoneahaman di antara mereka.
Menurut
Larry L.Barker, bahasa memiliki tiga
fungsi: Penamaan (naming atau labelling), interaksi dan transmisi informasi.Penamaan atau penjulukan
merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut
namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. Fungsi interaksi menurut Barker, menekankan berbagai gagasan dan
emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan
kebingungan. Melalui bahasa, informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga
Anda tidur kembali, dari orang lain, baik secara langsung atau tidak (melalui
media massa misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi
informasi yang lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa
depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita .Tanpa bahasa kita
tidak mungkin bertukar informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek
dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita. Jadi fungsi bahasa yang
mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek dan peristiwa yang
terjadi.
2.4 Pengertian Bahasa Baku
Setiap negara mempunyai
bahasa resmi masing-masing. Dalam Bahasa Indonesia bahasa resmi itu disebut
bahasa baku. Bahasa baku terdiri dari kata-kata yang baku. Kata-kata baku
adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaan yang berlaku,
didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan
perkembangan zaman, dengan kata lain bahasa baku adalah bahasa yang menjadi
bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari- hari
pada bahasa percakapan maupun bahasa tulisan. Bahasa baku lazim digunakan dalam
:
1.
Komunikasi resmi
( Tertulis )
Contoh
: surat-menyurat resmi, pengumuman resmi, undang- undang dan lain-lain
2.
Wacana Teknis
Contohnya : laporan resmi, karangan ilmiah, buku
pelajaran dan lain-lain
3.
Pembicaraan di
depan umum
Contohnya
: ceramah, kuliah, pidato dan lain-lain
4.
Pembicaraan
dengan orang yang dihormati dan sebagainya (Formal) Contohnya : guru terhadap
murid, saat sedang rapat di intansi
tertentu, pembicaraan kenegaraan.
2.5 Pengertian Bahasa Gaul
Bahasa
gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di
negara-negara lain kecuali di komunitas- komunitasIndonesia. Bahasa gaul
dijadikan sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul
pada akhir tahun 1980- an. Pada saat itu ia dikenal sebagai ‘bahasanya para
anak jalanan’ disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Namun
seiring bertambahnya waktu bahasa prokem yang tadinya hanya dipakai para preman
atau anak jalanan sebagai bahasa rahasia beralih fungsi menjadi bahasa gaul.
Menurut
Wikipedia bebas-hasil dari
penelusuran situs google mengatakan
bahwa bahasa gaul atau bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia non standar yang lazim
digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh
ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh
kata-kata Indonesia atau kata dialek khas suatu daerah yang dipotong dua fonemnya yang
paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang
tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian
disisipi -ok- menjadi bokap.Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus
yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan
morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek
suatu daerah.
Meskipun bahasa gaul
sebenarnya merujuk kepada bahasa khas yang digunakan setiap komunitas atau
subkultur apa saja, bahasa gaul lebih sering merujuk pada bahasa rahasia yang
digunakan dalam kelompok yang menyimpang, seperti kelompok preman, kelompok
penjual narkotika, kaum homoseksual/lesbian, pelacur, dan lain-lain.
Saat ini bahasa gaul telah
banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai percakapan sehari-hari
dalam pergaulan di lingkngan social bahkan dalam media-media popular
seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan sering pula digunakan dalam
bentuk publikasi-publikasi yang ditunjukan untuk kalangan remaja oleh
majalah-majalah remaja popular.
Bahasa gaul umumnya
digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan
dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya
dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi
penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, Kota Gorontalo,di
gorontalo banyak terdapat bahasa gaul yang sering digunakan oleh banyak
kalangan orang terutama kalangan remaja.
2.6 Ciri-Ciri Bahasa Gaul
1.
Kosakata khas: ayah → papa, ibu → mama, cinta →suka, aku →kita, kamu →ngana, dan lain-lain.
2.
Penghilangan huruf (fonem) awal: sudah → udah,
saja → aja, sama → ama, memang→emang, dan lain-lain.
3.
Penghilangan huruf “h”: habis → abis, hitung →
itung, hujan → ujan, hilang → ilang, tahu → tau, lihat → liat, pahit → pait,
tahun → taon, bohong → boong, dan lain-lain.
4.
Penggantian huruf "a" dengan
"e": benar → bener, cepat → cepet, teman→ temen, cakap → cakep, sebal
→ sebel, senang → seneng, putar → puter, seram →serem.
5.
Penggantian diftong "au",
"ai" dengan "o" dan "e": kalau → kalo, sampai →
sampe, satai → sate, capai → cape, kerbau → kebo, pakai → pake, mau (bukan
diftong) → mo, dan lain-lain.
6.
Pemendekan kata atau kontraksi dari kata/frasa
yang panjang: terima kasih → makasi/trims, bagaimana → gimana, begini → gini,
begitu → gitu, ini → nih, itu → tuh.
a. Pengunaan Imbuhan
1)
Peluluhan sufiks me-, pe- seperti: membaca → baca,
bermain → main, berbelanja → belanja, membeli → beli, membawa → bawa, pekerjaan
→ kerjaan, permainan → mainan, dan lain-lain.
2)
Penggunaan akhiran "-in" untuk menggantikan
akhiran "-kan": bacakan → bacain, mainkan → mainin, belikan → beliin,
bawakan → bawain, dan lain-lain.
3)
Nasalisasi kata kerja dengan kata dasar berawalan 'c':
mencuci → nyuci, mencari → nyari, mencium → nyium, menceletuk → nyeletuk,
mencolok → nyolok.
4)
Untuk membentuk kata kerja transitif, cenderung
menggunakan proses nasalisasi awalan
"me-", akhiran "-kan" dan "-i" yang cukup rumit
dihindarkan.
5)
Proses nasalisasi kata kerja aktif+ in untuk membentuk
kata kerja transitif aktif: memikirkan→ mikirin, menanyakan → nanyain,
merepotkan → ngerepotin, mengambilkan → ngambilin.
6)
Bentuk pasif 1: di + kata dasar + in: diduakan → diduain,
ditunggui → ditungguin, diajari → diajarin, ditinggalkan → ditinggalin.
7)
Bentuk pasif 2: ke + kata dasar yang merupakan padanan
bentuk pasif "ter-" dalam bahasa Indonesia baku: tergaet → kegaet,
tertimpa → ketimpa, terpeleset → kepeleset, tercantol → kecantol, tertipu →
ketipu, tertabrak → ketabrak.
2.7 Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul
Struktur
dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahsa
formalnya ( bahasa Indonesia ). Pada dasarnya ragam bahasa gaul remaja memiliki
ciri khusus, singkat, lincah, dan kreatif. Dalam banyak kasus kosakata yang
digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang diperpendek
melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Hal
itu dapat dilihat dari:
a)
Penggunaan awalan (e)
Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disisipkan bunyi e. Disini jelas terlihat terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf depan (m). Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan merancu dari kata aslinya.
Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disisipkan bunyi e. Disini jelas terlihat terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf depan (m). Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan merancu dari kata aslinya.
b)
Kombinasi (k, a, g)
Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a. Huruf konsonan kedua diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a. Huruf konsonan kedua diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
c)
Sisipan (e)
Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a menjadi e. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a menjadi e. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
Dari
bahasa gaul kemudian muncul istilah bahasa alay, tapi cenderung sama dengan
bahasa gaul tapi bahasa alay ini lebih cenderung terlihat dari tulisan bukan
lisan.
Contoh
yang merupakan jenis-jenis padanan kata seperti:
1)
Nama yang dibuat
dengan bahasa alay dalam situs jejaring sosial.
Contoh : Ayhu ChUantiCk
Changatt
2)
Tulisanya
mengunakan huruf besa-kecil.
Contoh : “aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!” atau
dengan angka “K4Ng3nZ dWEcChh” contoh penulisan lain dengan bahasa alay :
a. Meminta orang lain untuk menambahkan jadi teman
dalam
situs jejaring sosial : “j9n lupa ett ghw”.
situs jejaring sosial : “j9n lupa ett ghw”.
b. iya : ia.
c. kamu: kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu, dan
lain-lain.
d. aku : akyu, aq, akko, akkoh, aquwh, dan lain-lain.
e. maaf: mu’uph, muphs, maav, dan lain-lain.
f. sorry: cowyie, cory, tory, dan lain-lain.
g. add : ett,etths,aad,edd, dan lain-lain.
h. for : fur(zz),pols,
dan lain-lain.
i. lagi : agi,agy.
j. makan: mums,mu’umhs, dan lain-lain.
k. lucu : lutchuw,uchul,luthu, dan lain-lain.
l. siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva, dan lain-lain.
Semakin bertambahnya waktu semakin bertambah
bahasa-bahasa gaul yang muncul sehingga kosa kata gaul pun semakin banyak.
2.8 Contoh Bahasa Gaul
Selain bahasa Indonesia
yang baku banyak ragam bahasa yang sering digunakan oleh banyak kalangan dalam
menyampaikan informasi kepada orang lain,seperti:
1. Jo ( Saja )
Coba Jo Dulu (tidak menggunakan
intonasi pertanyaan) – Coba Saja Dulu.
2. So (Sudah)
So pasti. –
Sudah pasti / Tentu saja.
So Habis –
Sudah Habis.
3. Eh (Pengganti
subjek, sebutan untuk orang kedua…)
Eh, namamu
siapa? - Bung, namamu siapa?
Eh, ke sini sebentar. - Cowok/Cewek,
ke sini sebentar.
Ke sini sebentar, eh. - Ke sini
sebentar, Bung.
4. Kan (Kependekan dari 'bukan',
dipakai untuk meminta
pendapat/penyetujuan orang lain
(pertanyaan))
Bagus kan? - Bagus bukan?
Kan kamu yang bilang? -Bukankah kamu
yang bilang demikian?
Dia kan sebenarnya baik. -Dia
sebenarnya orang baik,bukan?
5. Kiapa (Kata tanya pengganti
'Kenapa')
Kiapa kamu
terlambat? – Kenapa kamu terlambat?
6. Lho/Loh (Kata seru yang menyatakan
keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang
digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi)
Loh, ada apa
ini! – Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah)
7. Nih (Kependekan
dari 'ini')
Nih balon yang
kamu minta. -Ini (sambil menyerahkan barang) Balon yang kamu minta.
saya sudah
selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan.
8. Tuh/ tu
(Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek…)
Lihat tuh hasil
dari perbuatan kamu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatan kamu.
Tuh orang yang
tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.
9. Yah (Selalu
menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri
sendiri….)
Yah, Indonesia kalah lagi -Indonesia
kalah lagi (dengan ekspresi kecewa).
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini
pendekatan yang digunakan penulis adalah
dengan menggunakan pendekatan kualitatif, serta metode yang digunakan adalah
metode deskriptif. Melalui metode ini
penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan
komprehensif.
3.2 Sumber dan Data Penelitian
Data teoritis dalam penyusunan ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi lapangan dan berbagai sumber referensi dari berbagai situs internet , artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema makalah dan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti.
Data teoritis dalam penyusunan ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi lapangan dan berbagai sumber referensi dari berbagai situs internet , artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema makalah dan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti.
3.2.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2006:89). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2014, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2006:89). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2014, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo.
3.2.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari keseluruhan objek penelitian. Adapun jumlah sampel yang diambil adalah 23 orang, yaitu mahasiswa yang berada di kelas B Akuntansi angkatan 2014.
Sampel merupakan bagian dari keseluruhan objek penelitian. Adapun jumlah sampel yang diambil adalah 23 orang, yaitu mahasiswa yang berada di kelas B Akuntansi angkatan 2014.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Dilakukan dengan mengamati secara langsung lokasi penelitian dengan tehnik pengambilan data studi observasi yang dilakukan sebagai langkah pertama untuk memperoleh gambaran awal terhadap perkembangan bahasa gaul khususnya dikalangan remaja yang dapat menggeser posisi bahasa Indonesia, disamping membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema yang diambil.
Dilakukan dengan mengamati secara langsung lokasi penelitian dengan tehnik pengambilan data studi observasi yang dilakukan sebagai langkah pertama untuk memperoleh gambaran awal terhadap perkembangan bahasa gaul khususnya dikalangan remaja yang dapat menggeser posisi bahasa Indonesia, disamping membaca berbagai situs internet yang relevan dengan tema yang diambil.
3.4 Teknik Analisis Data
Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dengan tema penelitian.
Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dengan tema penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berbicara
tentang perkembangan bahasa gaul khususnya di kalangan remaja tentu pastinya
memiliki dampak positif dan juga negatif bagi perkembangan bahasa Indonesia
sekarang. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai faktor yang menyebabkan semakin
dominannya penggunaan bahasa gaul di Indonesia. Dibawah ini akan dijelaskan
secara berurut. Dan selanjutnya secara jelas dapat dilihat pada tabel berikut
berdasarkan rumus yang digunakan untuk menganalisa data yaitu :
Keterangan : P : Proporsi (Persentase)
F : Jumlah jawaban dari setiap alternative pertanyaan (Frekuensi)
N : Jumlah Sampel
Dibawah ini merupakan data dari hasil
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan tehnik pengumpulan data studi
observasi lapangan atau meneliti secara langsung terhadap objek yang diamati.
Tehnik
pengumpulan data studi observasi lapangan ini dilakukan dengan cara menggunakan
alternatif pertanyaan yang terdiri atas 5 pertanyaan :
1.
Tanggapan responden
tentang apa mereka mengenal bahasa gaul?
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
A
|
Ya
|
19
|
82.61%
|
B
|
Tidak
|
4
|
17.39%
|
Jumlah
|
23
|
100%
|
Berdasarkan
jawaban dari responden diatas yang menunjukan bahwa mahasiswa kelas B akuntansi
yang berjumlah 23 orang (100%) sebagian besar mengenal bahasa gaul. Yaitu,
sebanyak 19 orang (82.61%) mengenal bahasa gaul dan sebanyak 4 orang (17.39%)
tidak mengenal bahasa gaul. Hal ini membuktikan bahwa bahasa gaul sudah sangat
dikenal dikalangan remaja.
Dapat dilihat pada
tabel berikut kalimat bahasa gaul yang sering digunakan oleh banyak kalangan
remaja ataupun mahasiswa :
Bahasa Indonesia
|
Bahasa Gaul
|
Maksud kamu/anda?
|
Maksud le hasan?
|
Semangat
|
Ba kuat
|
Serius?
|
Ciyus?
|
Ingin tahu
|
Kepo
|
Berlebihan
|
Lebay
|
Lambat
|
Lalod
|
Saya
|
Ana
|
2.
Tanggapan responden
tentang semenjak kapan mereka mengenal bahasa gaul?
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
A
|
SD
|
1 orang
|
4.34 %
|
B
|
SMP
|
18 orang
|
78.27 %
|
C
|
SMA/SMK
|
3 orang
|
13.04 %
|
D
|
Perguruan Tinggi
|
-
|
-
|
E
|
Mengenal jejaring social
|
1 orang
|
4.34 %
|
Jumlah
|
23 orang
|
100 %
|
Berdasarkan tabel jawaban responden diatas menunjukan bahwa
sebagian dari mereka baru mengenal bahasa gaul sejak duduk di bangku sekolah
menengah pertama (SMP). Yaitu, sebanyak 1 orang (4.34%) sudah mengenal bahasa
gaul sejak SD, sebanyak 18 orang (78.27%) sudah mengenal bahasa gaul sejak SMP,
sebanyak 3 orang (13.04%) baru mengenal bahasa gaul sejak SMA, dan sebanyak 1
orang (4.34%) mengenal bahasa gaul sejak mengenal situs jejaring sosial.
3.
Tanggapan responden
mengenai apakah lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia atau menggunakan
bahasa gaul?
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
A
|
Bahasa Indonesia
|
11 orang
|
47.82 %
|
B
|
Bahasa Gaul
|
12 orang
|
52.18 %
|
Jumlah
|
23 orang
|
100%
|
Berdasarkan
data jawaban dari responden diatas menunjukan bahwa mereka lebih dominan menggunakan bahasa gaul
ketimbang bahasa Indonesia, yaitu sebanyak 11 orang (47.82 %) lebih menggunakan
bahasa indonesia, dan sebanyak 12 orang (52.18%) mengatakan bahwa mereka lebih
dominan menggunakan bahasa gaul. Dari tanggapan diatas dapat kita simpulkan
bahwa bahasa gaul sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia.
4.
Tanggapan responden
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan bahasa gaul sering digunakan?
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
A
|
Karena Unik
|
10 orang
|
43.47 %
|
B
|
Karena Suka
|
9 orang
|
39.13 %
|
C
|
Takut Ketinggalan
|
4 orang
|
17.40 %
|
Jumlah
|
23 orang
|
100%
|
Berdasarkan
jawaban dari responden diatas menunjukan bahwa sebagian besar dari mereka
sering menggunakan bahasa gaul karena
keunikan bahasa gaul tersebut. Dimana sebanyak 10 orang (43.47 %) menggunakan
bahasa gaul karena keunikan bahasa gaul, dan sebanyak 9 orang (39.13 %)
menggunakan bahasa gaul karena mereka menyukai bahasa gaul tersebut, serta
sebanyak 4 orang (17.40%) menggunakan bahasa gaul Karena takut ketinggalan
zaman.
5.
Tanggapan responden
mengenai pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.
a)
Suci Masita (Suci)
“Menurut saya,
Munculnya bahasa gaul dikalangan para remaja menyebabkan pudarnya bahasa
Indonesia yang seharusnya lebih penting untuk dilestarikan dikalangan para
remaja”.
b)
Willyanto Malango (Wili)
“Menurut saya, bahwa
bahasa gaul yang saya ketahui bahasa gaul itu adalah bahasa yang sangat populer
pada anak-anak yang baru memasuki remaja, yang mempengaruhinya yaitu adanya
pergaulan-pergaulan bebas dan internet yang semakin banyak”.
c)
Riyanti Hamid (Ririn)
“Menurut saya, Pengaruh
bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia yaitu dapat menenggelamkan bahasa
Indonesia dikalangan para remaja”.
d)
Sri Indah Nadiah Hasan (Indah)
“Menurut saya, pengaruh
bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia yaitu bahasa indonesia akan jarang
digunakan atau bahkan tidak akan digunakan lagi. Karena yang telah kita ketahui
bersama, bahwa sekarang para remaja telah lebih banyak menggunakan bahasa gaul
agar tidak ketinggalan zaman”.
e)
Nurain Hilumalo (Ain)
“Menurut saya,
kebanyakan orang hanya menggunakan bahasa gaul dibandingkan dengan bahasa
Indonesia , salah satu alasannya adalah mereka takut akan ketinggalan zaman”.
f)
Melisa Asmawati Olii
(Lisa)
“Manurut saya, bahasa
gaul dapat mempengaruhi bahasa Indonesia, karena seiring kita menggunakan
bahasa gaul kita dapat melupakan bahasa daerah sendiri khususnya bahasa
Indonesia”.
g)
Moh. Gufron Stion (Gufron)
“Menurut saya, karena
bahas gaul bersifat unik, pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia yaitu
orang-orang akan sulit mengenali bahasa Indonesia yang baik dan benar”.
4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Pengaruh Eksistensi Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang baik dan benar
adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi
pemakaiannya serta tidak menyimpang dari kaidah bahasa baku. Bahasa Indonesia
yang benar berarti bahasa yang memiliki ragam formal dan taat pada kaidah
bahasa baku. Bahasa Indonesia yang baik berarti maknanya dapat dipahami
oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan siuasi saat bahasa itu
digunakan
Namun saat ini banyak remaja yang tidak memakai bahasa yang baik dan benar.
Mereka lebih kepada memakai bahasa gaul yang sudah jelas dalam penulisan maupun
pengucapannya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Munculnya bahasa gaul merupakan ancaman yang sangat serius terhadap bahasa
Indonesia. Bahasa gaul memberikan pengaruh bahwa kemampuan berbahasa remaja
saat ini semakin buruk dan jauh dari kata baik dan benar. Apabila
kegemaran ini berlangsung lama dan makin dicintai, resmilah kita mengubur
semangat sumpah pemuda berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa gaul dalam komunikasi baik di dunia nyata maupun dunia maya
menimbulkan beberapa masalah, antara lain:
A. Bahasa gaul dapat mempersulit
penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam acara formal. Misalnya
ketika sedang presentasi di depan kelas.
B. Bahasa gaul dapat menyulitkan orang
lain yang mendengar kata-kata yang termaksud gaul untuk mengerti maksud yang
dibicarakannya.
C. Bahasa gaul dapat menyebabkan
buruknya penggunaan bahasa Indonesia dikalangan remaja yang akan datang. Mereka
tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Akan tetapi sebagian orang
mengatakan bahwa bahasa gaul dapat membawa pengaruh positif bagi remaja :
A.
Dengan
digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreaif. Karena remaja
dapat mengembangkan ide yang ada pada diri mereka dan mereka dapat menciptakan
inovasi bahasa yang baru.
Hal ini membuktikan bahwa bahasa
gaul telah menghambat perkembangan bahasa Indonesia di kalangan remaja.
Pengaruh bahasa gaul terhadap eksistensi bahasa Indonesia sangat besar. Bahasa
Indonesia sekarang sudah jauh dari kata indah karena telah dicemari oleh
penggunaan bahasa gaul yang semakin banyak.
Pengaruh tersebut antara lain:
a) Remaja Indonesia tidak mengenal lagi
bahasa baku.
b) Remaja Indonesia tidak memakai lagi
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
c) Remaja Indonesia menganggap remeh
bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah
menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
d) Dulu anak-anak kecil bisa
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sekarang anak kecil
lebih menggunakan bahasa gaul. Misalnya dulu kita memanggil orang tua dengan
sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak kecil memanggil ayah atau ibu dengan
sebutan bokap atau nyokap.
e) Penulisan bahasa indonesia menjadi
tidak benar. Yang mana pada penulisan bahasa indonesia yang baik dan benar,
hanya huruf awal saja yang diberi huruf kapital, dan tidak ada penggantian
huruf menjadi angka dalam sebuah kata ataupun kalimat.
Bahasa gaul secara langsung maupun
tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Jika hal ini terus berlangsung, dikahawatirkan akan menghilangkan
budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan dikalangan anak-anak.
Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa remi negara kita dan juga sebagai
identitas bangsa.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tata bahasa Indonesia pada saat ini
sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja,
sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan
bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak
menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah
satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa
gaul.
Bahasa gaul secara langsung maupun
tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Dan ini merupakan pertanda kemampuan berbahasa
generasi muda zaman sekarang buruk. Memang dalam ilmu bahasa ada beragam bahasa
baku dan tidak baku. Bahasa baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang
formal. Tetapi bahasa gaul merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.
Keberadaan bahasa gaul memang sangat mengganggu eksistensi bahasa Indonesia.
Banyak remaja yang sudah tidak mengindahkan bahasa Indonesia dan banyak dari
mereka yang tidak lagi mengenal bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis
cantumkan dalam karya tulis ini adalah akan lebih baik jika para remaja tidak
berlebihan dalam menggunakan bahasa gaul karena dapat mengganggu perkembangan
bahasa Indonesia di kalangan remaja. Dan hendaknya melakukan pemahaman yang
mendalam terhadap pengaruh bahasa gaul serta mulailah dari diri kita sendiri
untuk membudidayakan bahasa Indonesia dan meningkatkan kembali eksistensinya di
kalangan remaja khusunya.
Kita boleh saja menggunakan bahasa
gaul, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia yang
baik. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan serta lambang
dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan
UUD 1945 Pasal 36.
DAFTAR PUSTAKA
Meilana,Ayu.
2010. Bahasa gaul mengancam penggunaan
bahasa Indonesia.(online)
(http://ayumeilana.blogspot.com/bahasa gaul.html. diakses 16 april 2015)
Wulandari,Siti.2012.Trend Bahasa Alay Menyimpang.(online)
(http://siti-wulandari.blogspot.com/bahasa-alay-menyimpang.html.
diakses 16 april 2015)
Nurutami,AnnaRevi.2013.Pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa indonesia.(online)
(http://AnnaReviNurutami.blogspot.com/pengaruh bahasa gauyl dalam
(http://ayumeilana.blogspot.com/bahasa gaul.html. diakses 16 april 2015)
Wulandari,Siti.2012.Trend Bahasa Alay Menyimpang.(online)
(http://siti-wulandari.blogspot.com/bahasa-alay-menyimpang.html.
diakses 16 april 2015)
Nurutami,AnnaRevi.2013.Pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa indonesia.(online)
(http://AnnaReviNurutami.blogspot.com/pengaruh bahasa gauyl dalam
perkembangan bahasa Indonesia.html,
diakses 16 april 2015)
Anwarul,Andri.2012.Makalah Pengaruh Bahasa Gaul.(online)
(http://Andri.Anwarul.blogspot.com/Makalah Pengaruh Bahasa Gaul
(http://Andri.Anwarul.blogspot.com/Makalah Pengaruh Bahasa Gaul
Terhadap Bahasa Indonesia.html,
diakses 16 april 2015)
Gracella.2014.karya tulis pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia.(online)
(http://GracellaGrace.blogspot.com/karya tulis pengaruh bahasa gaul
(http://GracellaGrace.blogspot.com/karya tulis pengaruh bahasa gaul
terhadap bahasa Indonesia.html,
diakses 16 april 2015)
Sumarsin,Arif.2012.Pengaruh Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan
Bahasa
Indonesia. (online)
(http://Arif.Sumarsin.blogspot.com/pengaruh penggunaan bahasa gaul
terhadap bahasa Indonesia.html,
diakses 16 april 2015)
Pertiwi,Meilinda.2013.Pengaruh Bahasa Alay terhadap Eksistensi
Bahasa
Indonesia.(online) (http://MelindaDwi Pertiwi.com/eksistensi bahasa
Indonesia.html, diakses
16 april 2015)